Epic Games kembali terkena sorotan setelah kabar menyebut proyek game kolaborasi bersama Disney yang menampilkan karakter Marvel dan Star Wars tertunda. Game bergenre extraction shooter itu awalnya dijadwalkan rilis pada bulan Maret, tapi sampai sekarang belum ada tanggal rilis baru yang diumumkan. Yang bikin makin ramai dibicarakan, laporan menyebut Epic juga meminta tim pengembangnya untuk lebih bergantung pada kecerdasan buatan dalam proses pembuatan game.
Bloomberg: Epic Games is going all in on AI as an unannounced shooter featuring Marvel & Star Wars characters is implementing an “AI first” production model: “No more hand-written code”, said one of the directors to staff. The director added that all art for the game would be “generated with full AI workflows.” More ➡️ https://t.co/jFhF03rtvU
— Shinobi602 (@shinobi602) October 12, 2026
Menurut laporan yang mengutip sejumlah sumber yang memahami proyek tersebut, Epic menerapkan pendekatan yang disebut AI first. Artinya, para developer diminta memanfaatkan alat seperti Claude dari Anthropic untuk membantu membuat kode maupun karya seni. Peran manusia kemudian bergeser menjadi pengawas dan pengarah hasil kerja AI, bukan lagi sepenuhnya membuat semuanya dari nol. Salah satu direktur game bahkan dilaporkan menyampaikan bahwa kode tidak lagi ditulis manual dan seluruh artwork proyek akan dibuat lewat alur kerja AI secara penuh.
Kabar ini tentu memicu reaksi beragam. Beberapa developer dikabarkan terkejut saat mendengar pengumuman itu dalam video call pada awal Oktober. Ada yang mempertanyakan bagaimana tim akan menangani error atau masalah yang mungkin muncul dari konten buatan AI, sementara yang lain meragukan apakah pendekatan baru ini benar-benar bisa memberikan hasil sesuai ekspektasi Epic. Ini masuk akal, karena membuat game AAA bukan cuma soal menghasilkan aset sebanyak mungkin, tapi juga soal kualitas, konsistensi, rasa, dan pengalaman bermain yang terasa menyatu.
Epic sendiri membenarkan komitmennya terhadap pengembangan berbantuan AI. Perusahaan menegaskan bahwa AI dipakai untuk mempercepat produksi, tetapi arah kreatif tetap berada di tangan developer Epic. Sementara itu, CEO Epic, Tim Sweeney, membela langkah tersebut dengan mengatakan bahwa perusahaan sedang melakukan perubahan besar agar tim bisa bekerja dengan akselerasi AI secara maksimal. Menurutnya, tujuannya bukan menyelesaikan pekerjaan yang sama dengan lebih sedikit orang, melainkan membantu semua orang membuat lebih banyak dan lebih baik. Ia juga menyebut manfaat itu akan diteruskan ke seluruh tim yang memakai Unreal.
Tapi pernyataan itu tidak langsung diterima semua orang. Komentar Sweeney justru dikritik oleh sejumlah pihak, termasuk seorang pengembang yang menyebut Epic seolah gagal membaca suasana. Sweeney membalas dengan menyatakan bahwa industri game perlu menerima perubahan teknologi, bukan berharap bisa kembali ke cara kerja masa lalu. Ia optimistis AI bisa memberdayakan kreator, meski pandangan itu jelas belum sepenuhnya meyakinkan banyak pekerja di industri ini.
Baca ini juga :
» Tim Sweeney: Valve Kehilangan Peluang Karena Absennya Fortnite dan Genshin Impact dari Steam
» CEO Epic Games Sindir Valve dan Gaben Soal Kenaikan Harga Steam Deck
Proyek game Marvel dan Star Wars ini sebenarnya bagian dari kemitraan besar Epic dan Disney yang dimulai pada 2024. Saat itu Disney berinvestasi 1,5 miliar dolar AS di Epic dan mendapat saham di perusahaan pembuat Fortnite tersebut. Kesepakatan itu juga mencakup rencana pembuatan beberapa game, dan shooter Marvel serta Star Wars ini dilaporkan menjadi rilis pertama dari kolaborasi tersebut.
Masalahnya, perkembangan proyek ini konon berjalan lebih lambat dari perkiraan. Sumber menyebut Epic meremehkan jumlah karyawan dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan game. Kondisi ini makin menarik karena Epic baru saja melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 1.000 karyawan pada Maret, dengan penurunan penjualan Fortnite disebut sebagai salah satu faktor. Dalam situasi seperti itu, wajar kalau keputusan untuk mempercepat produksi dengan AI menimbulkan kekhawatiran soal arah kerja dan masa depan tim.
Sebelumnya, Epic juga sudah pernah kena kritik karena penggunaan AI di Fortnite. Pada Juni 2026, perusahaan memperlihatkan bagaimana alat AI generatif dipakai untuk membuat concept art skin. Para artis tetap melakukan perbaikan manual, dan Epic menekankan bahwa kendali kreatif tetap ada di tangan manusia. Namun sebagian pemain tetap tidak nyaman dan meminta adanya label transparansi untuk kosmetik yang dibuat dengan bantuan AI.
Gimana? menarik banget, kan? selain artikel ini, KotakGame juga ada video seru loh, yuk lah tonton!
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.