Epic Games dan Valve kembali bahan obrolan gara-gara satu hal yang kelihatannya sepele, tapi efeknya gede: harga Steam Deck OLED naik jadi 949 dolar untuk model 1TB. Kenaikannya bukan cuma sedikit, tapi tembus 300 dolar dari harga awal 649 dolar, dan ini langsung bikin gamer di seluruh dunia pada angkat alis. Valve sebelumnya sudah sempat ngasih kode kalau bakal ada masalah suplai komponen, terutama RAM dan storage, tapi tetap saja, lihat angka hampir seribu dolar di satu handheld bikin banyak orang mikir dua kali sebelum checkout.
Semua orang bersikap terlalu keras di sini. Telah terjadi peningkatan signifikan dalam biaya komponen yang pada akhirnya dibiayai oleh pelanggan Steam, dan tren ekonomi telah menciptakan gangguan parah dalam rantai pasokan komponen untuk kapal besar. pic.twitter.com/w8iHVdSatK
— Tim Sweeney (@TimSweeneyEpic) 28 Mei 2026
Di tengah kekesalan gamer, muncul sosok yang mungkin paling nggak disangka bakal “membela” Valve, yaitu bos Epic Games, Tim Sweeney. Lewat postingan di X pada 28 Mei, dia bikin komentar yang terdengar seperti pembelaan, tapi isinya sarkasme tajam. Dia bilang orang-orang terlalu keras ke Valve karena biaya komponen memang naik, dan “pengeluaran” dari para pengguna Steam juga harus menutupi gangguan ekonomi di rantai pasokan komponen untuk kapal pesiar super alias megayacht. Intinya, dia nyindir kalau harga Steam Deck yang naik seolah-olah lagi bantu danai hobi kapal mewah Gabe Newell.
Referensi megayacht ini bukan asal comot, karena Gabe Newell memang dikenal doyan kapal super mahal dan bahkan punya superyacht ratusan juta dolar yang jadi bahan berita sendiri. Jadi, waktu Sweeney bawa-bawa megayacht, jelas ini bukan sekadar bercanda acak, tapi nyenggol gaya hidup sang bos Valve. Menariknya, Gabe sendiri tetap diam dan nggak komentar apa-apa soal drama harga ataupun sindiran ini, sesuatu yang cocok dengan imejnya yang jarang ikut ribut di ranah publik. Sikap diam ini bisa dibilang elegan, atau sekadar strategi PR yang sangat rapih, tergantung dari sudut pandang mana kamu lihat.
Hal yang bikin situasi makin pedas, Sweeney sebenarnya juga lagi nggak berada di posisi moral yang tinggi-tinggi amat. Di awal 2026, Epic baru saja melakukan PHK besar-besaran ke lebih dari 1.000 karyawan setelah dia mengakui kalau engagement Fortnite menurun dan perusahaan “menghabiskan jauh lebih banyak daripada yang dihasilkan.” Sebelum itu, Epic juga sudah menaikkan harga V-Bucks sampai 25 persen, yang jelas kerasa ke dompet pemain. Jadi ketika Sweeney menyindir CEO lain soal harga hardware, wajar kalau banyak orang merasa komentar itu terdengar ironis dan agak munafik.
Baca juga ini:
» Valve Menaikan Harga Steam Deck OLED, Handheld Gaming Udah Gak Affordable?
» Epic Games Resmi Umumkan Unreal Engine 6
» Kesalahan Pengiriman Steam Controller Berujung Hadiah Game Gratis!
» Steam Controller Baru Rilis, Langsung Jadi Korban Scalper!
» Tersangka Pelaku Penembak Donald Trump Ternyata Seorang Developer Game!
Hubungan panas antara Epic dan Valve sendiri sudah lama kebentuk. Dalam email yang sempat muncul di kasus hukum tahun 2018, Sweeney pernah menyebut Valve dengan istilah kasar karena nggak suka sistem bagi hasil pendapatan di Steam. Sejak itu, Epic Games Store terus berusaha jadi pesaing, tapi pada praktiknya masih hidup di bayang-bayang dominasi Steam sebagai platform PC utama. Valve di sisi lain jarang banget balas menyerang secara langsung, membuat konfliknya lebih terasa satu arah: Epic vokal, Valve cenderung adem ayem.
Soal kenaikan harga Steam Deck sendiri, Valve berdalih ini murni imbas dari masalah pasokan dan kenaikan biaya komponen memori serta storage. Mereka juga mengklaim sudah mengingatkan soal potensi gangguan suplai ini jauh sebelum harga resmi dinaikkan. Di beberapa wilayah, masalah RAM dan stok memang sempat bikin Steam Deck langka, dan ini ikut menguatkan narasi bahwa kondisi industri hardware memang lagi nggak stabil. Tapi, tentu saja, di mata konsumen, penjelasan teknis sering kalah keras dibanding rasa kesal waktu lihat angka harga melonjak.
Pada akhirnya, drama Steam Deck OLED ini bukan cuma soal perangkat genggam yang tiba-tiba mahal, tapi juga panggung baru buat rivalitas lama antara Epic dan Valve. Sweeney memanfaatkan momentum buat menyentil Gabe Newell dengan cara yang sinis, sementara reputasi Epic sendiri lagi tercoreng gara-gara PHK dan kenaikan harga V-Bucks. Di sisi lain, Valve harus menghadapi kemarahan gamer sekaligus berusaha menjelaskan bahwa mereka juga kena imbas rantai pasok global. Bagi gamer, semua ini mungkin hanya mengukuhkan satu hal: di balik diskon-diskon dan game gratis, industri gim tetap digerakkan oleh bisnis besar, dan setiap keputusan harga pasti ada ceritanya sendiri.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.